midtoad.org

midtoad.org – Korea Selatan saat ini menghadapi sebuah krisis tenaga medis yang signifikan, yang telah berdampak tragis pada tingkat mortalitas pasien. Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Cheong Yooseok dari Universitas Dankook mengidentifikasi bahwa kekurangan dokter telah mengakibatkan penolakan layanan rumah sakit dan kematian lebih dari 3.000 pasien sejak tahun 2017.

Institusi kesehatan di Seoul beroperasi di bawah tekanan yang intens karena lonjakan jumlah pasien, situasi yang diperparah oleh ketidakcukupan tenaga medis, terutama di daerah-daerah yang kurang terlayani.

Pemogokan yang dilakukan oleh sekelompok besar dokter residen dan intern, yang mencapai angka sekitar 13.000 individu, telah memperburuk keadaan ini. Aksi protes ini merupakan tanggapan terhadap kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kuota penerimaan di institusi pendidikan kedokteran.

Jung Seung-pyo, seorang pasien dengan diagnosa kanker esofagus, menjadi simbol dari disparitas akses layanan medis. Beliau harus melakukan perjalanan dari Jeju ke Seoul untuk mendapatkan operasi yang diperlukan, mencerminkan konsentrasi layanan kesehatan yang tinggi di ibu kota.

Analisis yang dilakukan oleh Gaetan Lafortune, seorang ekonom senior di Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), menegaskan bahwa Korea Selatan memiliki jumlah dokter per kapita yang sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, dan tidak ada peningkatan dalam penerimaan mahasiswa kedokteran selama dua dekade terakhir.

Masalah ini telah menjadi fokus dalam pemilihan umum Korea Selatan tahun 2024, dengan Presiden Yoon Suk-yeol yang berjanji untuk mengatasi krisis dengan menambah jumlah dokter.

Kebijakan yang diajukan untuk menambah 2.000 kursi di sekolah kedokteran, dari total 3.058 kursi yang ada, telah menimbulkan perdebatan. Sebagian menganggapnya sebagai strategi politik yang populis, sementara komunitas medis berpendapat bahwa hal tersebut tidak menyentuh pada isu mendasar yang dihadapi.

Perbedaan pendapatan yang signifikan antara dokter di bidang medis esensial dan mereka yang berpraktik di bidang kosmetik dan estetika dianggap sebagai masalah utama yang menyebabkan kekurangan tenaga medis.

Industri bedah kosmetik di Korea Selatan, yang menarik jutaan pasien asing, berbanding terbalik dengan kekurangan tenaga medis di bidang-bidang layanan kesehatan yang paling dibutuhkan.

Khususnya dalam bidang pediatrik, terdapat kekurangan pelamar yang signifikan, dengan hanya 53 pendaftaran untuk 205 slot yang tersedia pada tahun 2024, dan sebagian kecil dari mereka berasal dari luar wilayah metropolitan Seoul.

Dengan mempertimbangkan kompleksitas masalah dan dampaknya yang luas, solusi untuk krisis tenaga medis di Korea Selatan memerlukan pendekatan yang komprehensif. Hal ini mencakup perbaikan dalam distribusi dokter, peningkatan remunerasi yang adil, dan kondisi kerja yang lebih baik untuk memastikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan merata bagi seluruh populasi.

By admin