midtoad.org

midtoad.org – Penguatan mata uang dolar AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah menarik perhatian serius Menteri BUMN Indonesia, Erick Thohir. Kedua faktor ini dianggap berpotensi mempengaruhi stabilitas keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terutama bagi entitas yang bergantung pada impor dan memiliki kewajiban utang dalam mata uang dolar.

Status Utang Luar Negeri Indonesia

Informasi yang dirilis dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) oleh Bank Indonesia (BI) per April 2024 mencatat total utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2024 sebesar US407,3  194,8 miliar dengan pertumbuhan 1,3% year-on-year (yoy), dan ULN swasta tercatat US$ 197,4 miliar, yang mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 1,3% yoy.

Detail Utang BUMN

Dalam kategori utang swasta tersebut, utang BUMN tercatat menurun. Bank BUMN tercatat memiliki utang sebesar US 8,0 miliar. Lembaga keuangan bukan bank BUMN tercatat memiliki utang US  2,2 miliar pada tahun sebelumnya. Sedangkan, utang luar negeri perusahaan BUMN non-keuangan tercatat sebesar US  42,9 miliar pada tahun sebelumnya.

Strategi Mitigasi dari Menteri BUMN

Dalam menghadapi volatilitas nilai tukar yang meningkat, Erick Thohir telah menginstruksikan BUMN untuk mengoptimalkan pembelian dolar AS dan secara detail menganalisis risiko keuangan. Hal ini disampaikan dalam acara halalbihalal dengan media, di mana Menteri menekankan pentingnya stress test untuk setiap perusahaan pelat merah mengingat kondisi dolar AS yang telah mencapai Rp 16.200.

Pengaruh Geopolitik dan Pendekatan BUMN

Dengan berkembangnya situasi geopolitik yang tidak menentu, terutama konflik Iran-Israel, dikhawatirkan akan ada dampak negatif yang membebani BUMN, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada impor bahan baku dan memiliki porsi utang dalam dolar AS yang besar, seperti MIND ID, PLN, Pertamina, dan BUMN farmasi.

Erick Thohir menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh perusahaan BUMN akan disesuaikan secara spesifik oleh manajemen masing-masing BUMN, sesuai dengan kondisi belanja modal, operasional, struktur utang, serta pendapatan dalam mata uang rupiah atau dolar. Beliau mengakui bahwa setiap BUMN memiliki konteks yang berbeda yang memerlukan pendekatan yang berbeda pula.

Menteri BUMN Indonesia, Erick Thohir, telah menyoroti tantangan yang dihadapi oleh BUMN akibat pergerakan dolar AS dan ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah. Dengan penurunan dalam utang luar negeri BUMN yang tercatat, upaya pemerintah untuk memitigasi risiko melalui pembelian dolar AS yang teroptimisasi dan perhitungan risiko keuangan yang mendetil sedang dilakukan. Pendekatan yang disesuaikan untuk setiap BUMN menunjukkan kebutuhan akan strategi manajemen risiko yang fleksibel dan responsif terhadap dinamika pasar global.

By admin